Malem ini selesai menyelesaikan tugas kantor iseng-iseng buka FB karena hasrat nulis lagi tinggi nih..hehehe..dan malem ini dapet tips dari opa Dono Baswardono yang punya
group parenting. banyak ilmu yang aku dapat dari group ini terutama semua hal tentang gimana menjadi orang tua yang bisa mengarahkan anak-anak menjadi pribadi yang baik.
Dan tips yang aku baca malam ini tentang gimana caranya agar anak rajin belajar..hmm menarik nih karena duo krucilku sekarang lagi masa-masa orientasi menuju bangku sekolah dasar dan taman bermain. Ini tips jitu untuk mengarahkan anak-anak agar merasa enjoy, menikmati apa itu belajar. jadi mereka tidak terbebani dengan kata 'BELAJAR" itu dah yang bikin males. bete (buat ABG).
Menurut Opa Dono, tips ato trik jitu untuk membiasakan anak menyukai kata "BELAJAR" adalah
Pertama, setiap anak mesti tahu apa “tujuan” belajarnya; ia mesti tahu “apa yang diharapkan darinya.” Harapan yang nyata, yang konkrit, yang mudah dimengerti anak. Jadi, jangan sebutkan, “Dengan belajar, kamu akan dapat nilai bagus dalam matematika” atau “Kamu mesti belajar supaya pintar.” Bagi anak kelas satu SD misalnya, Anda dapat mengatakan “Supaya kamu bisa membantu Mama membacakan daftar belanjaan kalau di supermarket.” Tetapi untuk anak kelas satu SMP Anda bisa mengatakan, “Kita berwisata keliling Indonesia supaya kamu bisa menerapkan pelajaran Geografi dan Antropologimu.”
Mengapa mesti perlu diberitahukan tujuan belajarnya? Seorang anak yang belajar dengan tujuan akan lebih termotivasi. Tidak akan pernah asal-asalan dalam mengerjakan apa pun juga. Tidak asal menggelinding. Ia juga menjadi tidak mudah putus asa, tak mudah patah arang, tak mudah frustrasi, tak mudah mengeluh.
Kedua, Keteraturan berikutnya adalah keteraturan tempat. Mumpung masih kecil, biasakan anak belajar di tempat tertentu saja, tidak berpindah-pindah. Misalnya, di kamar belajarnya. Biarkan pikiran bawah sadarnya mengasosiasikan kamarnya sebagai tempat belajar. Sebaliknya, jika belajarnya berpindah-pindah, di meja makan, di depan televisi, di halaman, di dalam mobil, dll, maka pikiran bawah sadar sulit melakukan asosiasi tersebut. Nanti, kalau anak sudah agak besar, setelah asosiasi itu terbentuk, boleh saja jika sesekali waktu ia belajar di tempat lain, misalnya di perpustakaan, di kebun, di tepi pantai.
Ketiga, Yang juga tidak kalah pentingnya adalah “keteraturan suasana.” Hmmm…
Sebelum saya melanjutkan, “suasana” seperti apakah yang secara tidak sadar Anda tanamkan secara teratur di dalam jiwa anak-anak? Suasana terpaksa? Suasana dongkol? Suasana jengkel? Suasana ngambek? Suasana marahan? Padahal, suasana negatif seperti itu akan merangsang otak untuk mengeluarkan hormon yang menghambat proses belajar. Jadi, hanya orang yang “tengah bermimpi” saja yang berharap anaknya meraih kesuksesan akademik lewat rutinitas belajar bersuasana negatif. Saya yakin, begitu ia lulus kuliah, ia tidak akan mau belajar lagi. Bahkan di kantor pun ia akan malas mengikuti training. Dalam kehidupan sehari-hari pun, ia akan enggan belajar atau memetik hikmat dari pengalamannya.
Jadi, secara teratur, ciptakan suasana sukacita, suasana penuh rasa ingin tahu, suasana bersemangat. Banyak cara untuk mencapainya. Lakukan kegiatan-kegiatan positif sebelum belajar, seperti bercerita bersama, bercanda, berpelukan, dsb. Dan jauhkan kegiatan yang memungkinkan timbulnya suasana negatif. Menonton film serial favoritnya, misalnya, jangan berdekatan atau persis sebelum jadwal belajar. Apalagi kalau acara favorit itu ternyata waktunya tumpang tindih dengan waktu belajar. Ya, pasti tidak ada anak yang mau disuruh berhenti di tengah-tengah film yang asyik.
Keempat, Keteraturan waktu juga sangat penting. Dua-tiga jam setelah bangun pagi adalah waktu terbaik untuk belajar (dengan catatan, benar-benar bangun pagi; bukan bangun kesiangan). Kalau Anda dan anak sepakat mengerjakan PR setelah istirahat satu-dua jam sepulang sekolah, misalnya, maka lakukan terus sampai kapan pun. Jangan mengajak anak pergi ke luar rumah misalnya, ketika ia sedang waktunya mengerjakan PR tersebut. Waktu belajar yang teratur ini akan membuat seluruh pola hidup anak juga menjadi teratur, seperti waktu tidur dan bangunnya. Dan akhirnya, pola hidup keluarga pun menjadi ikut teratur.
Kelima, jauh lebih baik jika pada saat anak-anak belajar, kedua orangtua juga belajar. Matikan televisi. Matikan iPad. Matikan hape. Membacalah; entah membaca buku resep, membaca buku cara memperbaiki mesin mobil. Anak belajar, orangtua juga belajar. Adil, bukan?
Keteraturan yang tidak kalah pentingnya adalah keteraturan meja belajar. Ingat, teratur bukan berarti rapi dan bersih. Tak jarang, ibu-ibu suka menata buku anak-anak berdasarkan urutan tinggi-rendahnya buku; padahal itu tak ada gunanya bagi proses belajar. Biarlah anak-anak mengatur buku dan alat tulisnya sesuai dengan pola pikirnya. Misalnya, diatur sesuai dengan jadwal belajar harian di sekolah. Atau diaturnya berdasar pengelompokan ilmu pengetahuan. Jika sudah SMP, boleh Anda perkenalkan aturan penomoran ilmu pengetahuan seperti yang berlaku di semua perpustakaan di dunia.
Bagian dari keteraturan meja belajar ini, buang semua hal yang tidak berkaitan dengan proses belajar dari meja belajar. Tidak juga robot atau boneka.
Keenam, Begitu pula, keteraturan pencahayaan juga perlu diperhatikan. Sediakan lampu khusus belajar agar mata dan otak anak tidak cepat lelah atau malah mendapat gangguan dari cahaya yang terlalu terang.
Nah itu tadi ilmu yang malem ini aku dapat, jadi mengaca pada diri sendiri ternyata kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil pada anak akan berdampak sampai kelak mereka dewasa. Semoga saya selalu bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anakku.